
Kabupaten Tangerang — Atensi TNI Polri
Aroma menyengat menusuk hidung. Tumpukan sampah menggunung di sudut permukiman warga Kecamatan Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, seolah menjadi simbol matinya kepekaan pelayanan publik terhadap jeritan masyarakat kecil.
Di tengah gencarnya slogan kebersihan dan pelayanan prima, fakta di lapangan justru menghadirkan pemandangan yang mencekam. Sampah berserakan dan terus menumpuk tanpa pengangkutan yang jelas. Warga mengaku resah karena kondisi tersebut telah berlangsung cukup lama dan berpotensi memicu gangguan kesehatan serta pencemaran lingkungan.
Ironisnya, lokasi tumpukan sampah berada di kawasan yang setiap hari dilalui masyarakat. Bau busuk yang menyelimuti lingkungan membuat aktivitas warga terganggu, sementara genangan limbah mulai memunculkan kekhawatiran akan berkembangnya penyakit, terlebih memasuki musim hujan.
Kondisi itu memantik perhatian serius dari Pembina DPD Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWO-I) Kabupaten Tangerang, Ramliana Bangsa Shetra, yang turun langsung ke lokasi guna melihat secara nyata kondisi di lapangan.
Dari hasil pantauan langsung, penanganan sampah dinilai jauh dari kata maksimal. Volume sampah terus bertambah, sementara proses pengangkutan terkesan lamban dan tidak menunjukkan respons cepat terhadap keresahan masyarakat.
“Kami turun langsung agar persoalan ini tidak sekadar berhenti menjadi laporan administratif. Fakta di lapangan menunjukkan sampah masih menumpuk dan belum ditangani secara serius. Ini bukan hanya persoalan kebersihan semata, tetapi menyangkut kesehatan masyarakat, kualitas lingkungan, dan kredibilitas pelayanan publik pemerintah daerah,” tegas Ramliana Bangsa Shetra.
Fenomena ini menjadi tamparan keras bagi tata kelola kebersihan di Kabupaten Tangerang. Di tengah besarnya anggaran daerah dan tingginya produksi sampah harian, masyarakat justru masih dihadapkan pada persoalan klasik yang terus berulang tanpa solusi konkret.
Padahal sebelumnya, pemerintah daerah melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) telah mengakui bahwa persoalan sampah membutuhkan armada yang memadai, sistem distribusi yang terukur, serta manajemen pengelolaan yang serius dan berkelanjutan.
Namun realita di lapangan berkata lain. Keluhan warga terus bermunculan, sampah tetap menggunung, sementara respons penanganan dinilai belum mencerminkan kehadiran negara yang seharusnya hadir cepat saat masyarakat menghadapi persoalan lingkungan.
Warga sekitar kini dihantui kekhawatiran. Selain menciptakan lingkungan kumuh dan bau tak sedap, tumpukan sampah dikhawatirkan menjadi sarang penyakit, berkembangnya bakteri, hingga memicu pencemaran yang lebih luas apabila terus dibiarkan.
DPD IWO-I Kabupaten Tangerang menegaskan bahwa persoalan sampah tidak boleh dianggap sebagai masalah rutin yang lumrah terjadi. Ketika masyarakat sudah berulang kali mengeluh namun kondisi tetap dibiarkan, maka publik berhak mempertanyakan keseriusan dan efektivitas sistem pelayanan kebersihan daerah.
“Kebersihan lingkungan jangan hanya menjadi slogan seremonial atau bahan pencitraan semata. Ketika masyarakat terus mengeluh namun kondisi tetap dibiarkan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kebersihan wilayah, tetapi juga kepercayaan publik terhadap pemerintah,” tambahnya.
Sebagai organisasi profesi pers yang menjalankan fungsi kontrol sosial, IWO-I Kabupaten Tangerang menegaskan akan terus mengawal persoalan tersebut hingga ada tindakan nyata dari pihak terkait.
IWO-I juga mendesak instansi berwenang untuk tidak menutup mata terhadap kondisi yang terjadi di lapangan. Evaluasi sistem pengangkutan sampah, pengawasan armada, hingga respons cepat terhadap keluhan warga dinilai menjadi langkah mendesak sebelum persoalan berkembang menjadi ancaman lingkungan yang lebih serius.
Sebab pada akhirnya, pelayanan publik tidak diukur dari megahnya program di atas kertas atau banyaknya seremoni belaka, melainkan dari sejauh mana masyarakat benar-benar merasakan kehadiran pemerintah dalam menyelesaikan persoalan nyata di lingkungan mereka. (Red)


Tidak ada komentar